Pemberdayaan Aktivis Pramuka;
Dari Pramuka kepada Pramuka menjadi Pramuka kepada Masyarakat
Melalui Penanggulangan Bencana Berbasis Komunitas
Oleh : Bambang Sasongko dan Iwan Hermawan
Ketika bencana Tsunami melanda Aceh dan Nias, gempa bumi melanda Jogyakarta, banjir danlongsor melanda sebagaian besar wilayah Indonesia banyak sekali mantan aktivis pramuka bahkan yang masih aktif pun merasa sedih dan marah. Sedih karena ikut merasakan beban derita saudara sebangsa yang kena bencana. Marah karena mereka merasa bisa membantu dengan kemampuan SAR yang dimilikinya tetapi tidak bisa disalurkan. Kemana mereka harus bergabung dengan para sukarelawan lain untuk membantu korban bencana. Mereka tahu untuk datang dan bergabung dengan Kwartir Gerakan Pramuka di berbagai tingkat sangat terbatas, baik karena kemampuan kwartir maupun system perekrutan yang berlaku.
Potensi kemampuan penanggulanan bencana pada setiap anggota Pramuka sangat besar. Dari usia 9 sampai dengan 25 tahun mereka terus menerus diingatkan harus selalu siap-sedia (prepare) dalam hal menolong dirinya dan orang lain. Gerakan Pramuka telah mendidik dan melatih kaum muda untuk memiliki rasa cinta tanah air dan jiwa penolong. Kaum muda itu dilatih berbagai macam keterampilan yang antara lain keterampilan search and rescue, yang sangat berguna dalam hal mengatasi bencana. Pramuka itu rela menolong dan tabah, rajin terampil dan gembira, hemat cermat dan bersahaja, sehingga pasti mereka dapat menolong dengan suasana gembira kepada korban bencana. Di pramuka berlaku moto “bermain yang bemanfaat, bercanda yang berguna”.
Sungguh sayang potensi yang begitu besar terbuang percuma begitu dia tidak aktif pramuka lagi. Keterampilan dan kemampuan yang didapatnya hanya tersimpan yang akan berangsur-angsur hilang bersama berlalunya waktu dan kesibukan sehari-harinya dalam menjalani kehidupan ini.
Perlu sebuah media dalam bentuk sebuah organisasi, LSM atau lainnya, untuk memberdayakan potensi besar itu sehingga apa yang mereka punya dapat bermanfaat, baik bagi diri dan keluarga maupun bagi komunitasnya dimana mereka berada.
Peluang untuk memberdayakan mereka muncul dan terbuka lebar setelah lahir sebuah gerakan besar, yaitu apa yang dinamakan dengan Community Based Disaster Risk Manajement, CBDRM, penggulangan bencana berbasis komunitas. Jika masa lalu para aktivis pramuka itu melakukan kegiatannya bersifat Pramuka ke Pramuka (scout to scout), dengan PBBK sifat itu bergerak menjadi Pramuka kepada Masyarakat (scout to community).
Program Pemberdayaan
Sebut saja organisasi yang akan mewadahi Mereka itu adalah Organisasi Bentukan (OB). Pemberdayaan OB diarahkan kepada Mereka yang bersedia bekerja sama, mempunyai kesamaan aspirasi dalam kegiatan bersama, di mana hubungan di antaranya akrab dan mampu berkomunikasi dengan semua lapisan. Untuk mencapai tujuan bersama, mereka bekerja berdasarkan prinsip saling membantu berdasarkan kepentingan bersama.
Alasan OB dalam memfasilitasi mereka adalah:
Mereka perlu diberdayakan karena adanya kelemahan partisipasi, solidaritas sosial, keterampilan, sikap kritis, komunikasi personal. Partisipasi sebagai salah satu upaya pemberdayaan.
Upayanya adalah :
1. Menciptakan suasana yang memungkinkan potensi mereka untuk berkembang. Setiap aktivis mempunyai portensi yang dapat dikembangkan. Mereka mempunyai potensi untuk mengorganisasi dirinya secara mandiri. Pemberdayaan ini akan berakar kuat pada proses kemandirian tiap individu yang kemudian meluas ke keluarga, serta kelompok komunitas baik di tingkat lokal maupun nasional.
2. Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki dengan menerapkan langkah-langkah nyata, menampung berbagai masukan, menyediakan prasarana, sarana baik fisik maupun sosial yang dapat diakses oleh masyarakat.
Peran OB sebagai berikut:
1. Fasilitator dan katalisator, yaitu melalui para Mereka yang tinggal di tengah-tengah kelompok. Mereka bukan pemimpin tetapi sahabat komunitas.
2. Pelatih dan pendidik, mencarikan dan menyalurkan informasi dari luar ke dalam komunitas. Medianya bisa dengan cara membuat; brocure, leaflet, seminar, diklat, dsb.
3. Memupuk modal.
Strategi program pengembangan OB berorientasi pada bagaiman PBBK dapat diterima dan dilaksanakan masyarakat dengan cara :
1. Mengutamakan relief and welfare, berusaha untuk memenuhi kekurangan atau kebutuhan tenaga penanggulangan bencana dalam hal memberikan bantuan kemanusiaan yang diberikan pada saat terjadi bencana alam seperti gempa bumi, kelaparan, banjir, dan kebakaran.
2. Community development, memberi perhatian pada pengembangan sumber daya manusia, kemandirian, dan keswadayaan masyarakat dalam hal penangan bencana. Misi utamanya adalah mengembangkan kemampuan masyarakat untuk dapat sia-siaga, merespon saat bencana dating, mandiri dan berswadaya pasca bencana dalam meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraannya,
3. Fasilitator gerakan masyarakat (People’s Movement), dengan membantu komunitas untuk mengorganisasi diri, mengidentifikasi kebutuhan lokal, dan memobilisasi sumber daya yang ada pada mereka, membantu mendapakan sumber daya dari luar sebagai tambahan sumber daya lokal jika yang tersedia tidak memadai.
Pendekatan pemberdayaan.
1. Pendekatan kemanusiaan; membantu secara spontan dan sukarela kelompok masyarakat tertentu yang membutuhkan bantuan karena terkena bencana.
2. Pendekatan pengembangan masyarakat; mengembangkan, memandadirikan, menswadayakan masyarakat.
3. Pendekatan pemberdayaan rakyat; memperkuat posisi tawar menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan penekan di segala bidang dan sector kehidupan.
Penutup
Mereka yang mempunyai potensi kemampuan dalam hal penanganan kebencanaan perlu diberikan media untuk menyalurkannya dan PBBK perlu disampaikan kepada komunitas dengan bebagai metoda adalah dua hal yang saling membutuhkan. Dengan demikian PBBK sebagai sebuah gerakan untuk mensiap-siagakan komunitas dalam menghadapi bencana dapat dicapai secara optimal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar